BERITA UTAMALINTAS SULTENGLIPUTAN KHUSUSNASIONALPOLHUKAM

Pengamat Soroti Implementasi Program MBG, Tujuan Dinilai Strategis untuk SDM dan Gizi

Pandangan tersebut disampaikan Entang Sastraatmadja, Anggota Dewan Pakar Dewan Pimpinan Nasional Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (DPN HKTI), dalam tulisan yang membahas penyikapan terhadap pelaksanaan Program Makan Bergizi Gratis.

Bidiksulteng.com,PALU – Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang menjadi salah satu program nasional pemerintah dinilai memiliki tujuan strategis dalam meningkatkan kualitas sumber daya manusia (SDM), memperbaiki status gizi masyarakat, serta mendorong pertumbuhan ekonomi lokal. Namun demikian, sejumlah catatan terkait pelaksanaan program di lapangan dinilai perlu menjadi perhatian untuk perbaikan ke depan.

Pandangan tersebut disampaikan Entang Sastraatmadja, Anggota Dewan Pakar Dewan Pimpinan Nasional Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (DPN HKTI), dalam tulisan yang membahas penyikapan terhadap pelaksanaan Program Makan Bergizi Gratis.

Menurut Entang, secara konsep MBG dirancang untuk menyediakan makanan bergizi seimbang bagi kelompok sasaran tertentu, seperti anak sekolah, balita, ibu hamil, dan ibu menyusui. Program tersebut bertujuan mendukung upaya pencegahan stunting dan malnutrisi sekaligus meningkatkan kualitas SDM menuju Indonesia Emas 2045.

Selain aspek kesehatan, program tersebut juga diharapkan dapat menggerakkan ekonomi daerah melalui pemanfaatan bahan pangan yang dipasok petani, nelayan, dan pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) setempat.

“Program MBG itu investasi jangka panjang pemerintah untuk membangun generasi yang lebih sehat, cerdas, dan produktif, sekaligus memperkuat ekonomi desa,” tulis Entang.

Ia menjelaskan, MBG dirancang tidak hanya untuk memenuhi kebutuhan pangan, tetapi juga membangun pola konsumsi yang lebih sehat melalui penyediaan makanan sesuai kebutuhan gizi serta edukasi mengenai kandungan nutrisi.

Dinilai Memiliki Efek Ganda

Dalam tulisannya, Entang menyebut program MBG memiliki sejumlah nilai strategis. Selain mendukung pemenuhan gizi pada masa pertumbuhan anak, program tersebut dinilai berpotensi memberikan dampak ekonomi melalui perputaran aktivitas usaha di tingkat lokal.

Menurutnya, penggunaan bahan pangan dari daerah dapat menciptakan efek berganda bagi perekonomian masyarakat, khususnya di wilayah pedesaan.

Program ini juga dinilai berbeda dengan bantuan sosial konvensional karena dirancang sebagai intervensi rutin yang tidak hanya berfokus pada pemenuhan kebutuhan pangan sesaat, tetapi juga perubahan perilaku hidup sehat.

Catatan terhadap Pelaksanaan

Meski demikian, Entang menilai keberhasilan program sangat bergantung pada kualitas implementasi di lapangan. Ia menyoroti sejumlah tantangan yang pernah muncul sejak program mulai dijalankan, termasuk persoalan distribusi, administrasi, hingga kualitas dan keamanan pangan.

Dalam tulisannya, ia merujuk sejumlah catatan yang pernah disampaikan berbagai pihak terkait pelaksanaan program MBG, antara lain mengenai koordinasi pelaksanaan, keterlambatan distribusi makanan di beberapa daerah, persoalan pembayaran kepada mitra penyedia layanan, serta perlunya peningkatan standar pengawasan keamanan pangan.

Ia menilai berbagai persoalan tersebut perlu dijadikan bahan evaluasi tanpa mengesampingkan tujuan utama program.

“Tujuan MBG untuk memperbaiki gizi anak, mencegah stunting, dan membantu daya beli masyarakat secara umum mendapat dukungan banyak pihak. Yang menjadi perhatian adalah aspek pelaksanaannya,” tulisnya.

Dorong Transparansi dan Pengawasan

Entang juga menekankan pentingnya transparansi dalam pelaksanaan program, termasuk penyediaan data pendukung, evaluasi berkala, serta penguatan pengawasan di tingkat daerah.

Selain itu, pelibatan pemerintah daerah, sekolah, tenaga pendidik, dan masyarakat dinilai penting agar pelaksanaan program berjalan sesuai kebutuhan dan kondisi masing-masing wilayah.

Ia juga mengusulkan adanya fleksibilitas dalam penyusunan menu dengan tetap mengacu pada standar gizi yang telah ditetapkan, sehingga dapat disesuaikan dengan ketersediaan bahan pangan dan kebiasaan konsumsi masyarakat setempat.

Perlu Perbaikan Berkelanjutan

Menurut Entang, penyikapan terhadap berbagai polemik yang muncul sebaiknya dilakukan secara proporsional dengan membedakan antara tujuan program dan pelaksanaannya.

Ia menilai evaluasi dan perbaikan berkelanjutan menjadi kunci agar manfaat program dapat dirasakan secara optimal oleh masyarakat.

“Secara konsep, program ini berupaya menghubungkan aspek gizi, pendidikan, dan ekonomi dalam satu kebijakan. Keberhasilannya akan sangat ditentukan oleh konsistensi implementasi di lapangan,” tulisnya.

Program Makan Bergizi Gratis sendiri merupakan salah satu program pemerintah yang ditujukan untuk memperluas akses masyarakat terhadap pangan bergizi sekaligus mendukung peningkatan kualitas kesehatan dan pendidikan di Indonesia.

Sumber :  Entang Sastraatmadja, Anggota Dewan Pakar Dewan Pimpinan Nasional Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (DPN HKTI)

Penulis : MSG

Editor : Bidiksulteng.com

Related Articles

error: Konten dilindungi hak cipta. Dilarang menyalin tanpa izin.
Close