BERITA UTAMAHukumKriminalLINTAS SULTENGLIPUTAN KHUSUSNASIONALPOLHUKAMSigiSOROTAN

3 Siswi Keroyok Pelajar di Sigi, Korban Alami Sakit Kepala

Keluarga korban berencana melaporkan kejadian ini ke Polres Sigi, termasuk untuk kebutuhan visum. Upaya mediasi yang difasilitasi pihak sekolah berakhir tanpa kesepakatan, membuat orang tua korban memilih melanjutkan proses hukum.

Bidiksulteng.com,SIGI – Tiga siswi diduga mengeroyok seorang pelajar di SMA Negeri 2 Sigi pada Senin (11/5/2026) sekitar pukul 15.30 WITA. Korban dilaporkan mengalami sakit di bagian kepala, sementara keluarga memutuskan menempuh jalur hukum.

Informasi yang dihimpun menyebut insiden terjadi di dalam ruang kelas dan diduga berawal dari cekcok di media sosial beberapa hari sebelumnya. Korban saat itu menuju kelas untuk mengambil sepatu sebelum diikuti tiga siswi lain.

Setibanya di dalam ruangan, pintu kelas disebut tertutup dan tirai jendela ditarik sehingga situasi tidak terlihat dari luar. Teriakan korban kemudian terdengar dan memicu siswa lain mendatangi lokasi untuk membuka pintu.

Saat pintu berhasil dibuka, korban diduga telah mengalami kekerasan fisik. Korban disebut sempat melawan salah satu pelaku, sementara dua lainnya menahan tubuhnya. Pukulan dilaporkan mengenai bagian kepala.

Seorang siswa yang mengaku berupaya melerai mengatakan turut mengalami kekerasan.

“Saya hanya mau melerai, tapi saya didorong dan dicakar,” ujarnya.

Pada Selasa (12/5/2026), korban menghadiri mediasi di sekolah bersama orang tuanya. Namun korban mengalami ketakutan, pusing, dan tekanan psikologis saat berada di lingkungan sekolah. Seorang guru kemudian membawa korban pulang menggunakan mobil pribadi karena kondisinya dinilai tidak memungkinkan mengikuti mediasi.

Keluarga korban berencana melaporkan kejadian ini ke Polres Sigi, termasuk untuk kebutuhan visum. Upaya mediasi yang difasilitasi pihak sekolah berakhir tanpa kesepakatan, membuat orang tua korban memilih melanjutkan proses hukum.

Kasus ini juga menyorot kesiapan sekolah dalam menangani kekerasan di lingkungan pendidikan. Berdasarkan informasi yang diperoleh, sekolah diduga belum memiliki Tim Pencegahan dan Penanganan Kekerasan (TPPK).

Paman korban, Taufik, menilai penanganan harusnya lebih berpihak pada pemulihan korban.

“Harusnya korban didampingi, termasuk saat pemeriksaan kesehatan. Ini malah keluarga yang bergerak sendiri,” katanya.

Hingga berita ini diterbitkan, pihak sekolah belum memberikan keterangan resmi mengenai kronologi maupun langkah penanganan lanjutan. Kasus ini kini menjadi perhatian publik, dengan sorotan pada perlindungan siswa di lingkungan sekolah.

Editor : Bidiksulteng.com

Related Articles

Close