BERITA UTAMALINTAS SULTENGLIPUTAN KHUSUSNASIONALPaluPOLHUKAM

Anwar Hafid: Ekonomi Sulteng Tetap Tumbuh di Tengah Tekanan Global

Hal tersebut disampaikan Anwar saat menghadiri Forum Ekonomi Keuangan Sulawesi Tengah dan Diseminasi Laporan Perekonomian Provinsi yang digelar Kantor Perwakilan Bank Indonesia Sulawesi Tengah di Sriti Convention Hall Palu

Bidiksulteng.com,Palu – Gubernur Sulawesi Tengah, Anwar Hafid, menegaskan perekonomian Sulawesi Tengah tetap menunjukkan ketahanan di tengah tekanan ekonomi global dan berkurangnya transfer dana dari pemerintah pusat.

Hal tersebut disampaikan Anwar saat menghadiri Forum Ekonomi Keuangan Sulawesi Tengah dan Diseminasi Laporan Perekonomian Provinsi yang digelar Kantor Perwakilan Bank Indonesia Sulawesi Tengah di Sriti Convention Hall Palu, Kamis (7/5/2026).

Kegiatan itu turut dihadiri Kepala Perwakilan Bank Indonesia Sulawesi Tengah Muhammad Irfan Sukarna, Kepala Otoritas Jasa Keuangan Sulawesi Tengah Bonny Hardi Putra, Kepala BPS Sulawesi Tengah Daryanto, jajaran perbankan, pelaku usaha, akademisi, serta kepala daerah.

Dalam sambutannya, Anwar Hafid mengapresiasi langkah Bank Indonesia yang dinilai konsisten menghadirkan ruang diskusi strategis untuk memperkuat sinergi pembangunan ekonomi daerah.

Menurutnya, forum tersebut penting tidak hanya untuk memaparkan kondisi ekonomi daerah, tetapi juga menyatukan persepsi menghadapi tantangan ekonomi global dan nasional.

“Sulawesi Tengah tetap tumbuh sangat baik di tengah tekanan global. Triwulan I tahun 2026 ekonomi kita tumbuh 8,32 persen secara tahunan,” ujar Anwar.

Ia menjelaskan, sektor industri pengolahan masih menjadi penopang utama pertumbuhan ekonomi Sulawesi Tengah dengan kontribusi mencapai 43,43 persen terhadap struktur ekonomi daerah. Sektor tersebut juga tumbuh sebesar 15,9 persen seiring meningkatnya aktivitas ekspor.

Meski demikian, Anwar mengakui perekonomian Sulawesi Tengah mengalami kontraksi secara kuartalan sebesar 6,98 persen dibanding triwulan IV tahun 2025. Kondisi tersebut dipengaruhi melemahnya aktivitas administrasi pemerintahan akibat berkurangnya kapasitas fiskal daerah.

Menurut Anwar, Sulawesi Tengah kehilangan transfer daerah sebesar Rp530 miliar pada tahun 2025 dan kembali berkurang Rp1,2 triliun pada tahun 2026.

“APBD kita sebelumnya hampir Rp6 triliun, sekarang tinggal sekitar Rp4,3 triliun. Itu sangat memengaruhi belanja pemerintah dan aktivitas birokrasi,” katanya.

Meski menghadapi tekanan fiskal, Anwar tetap optimistis terhadap prospek ekonomi Sulawesi Tengah. Ia menilai struktur ekonomi daerah saat ini tidak lagi sepenuhnya bergantung pada APBD karena sektor industri, perdagangan, dan investasi terus berkembang.

“Kita bersyukur karena Sulawesi Tengah tidak hanya bergantung pada APBD. Pertumbuhan ekonomi kita digerakkan sektor-sektor produktif,” ujarnya.

Pemerintah Provinsi Sulawesi Tengah, lanjut Anwar, mulai menggeser fokus pembangunan ekonomi ke sektor pertanian dan perikanan guna memperkuat fondasi ekonomi daerah dalam jangka panjang.

Ia menilai investasi di sektor pertanian dan perikanan masih sangat minim, padahal keduanya memiliki potensi besar menopang pertumbuhan ekonomi Sulawesi Tengah ke depan.

Karena itu, Pemerintah Provinsi Sulawesi Tengah tengah menggagas kerja sama sister city dengan Provinsi Hainan dan Sichuan di Tiongkok. Pada 17 Mei mendatang, Anwar bersama Rektor Universitas Tadulako dijadwalkan menandatangani nota kesepahaman kerja sama di bidang pertanian dan perikanan.

“Kita tidak lagi hanya fokus pada industri pengolahan nikel. Kita mulai fokus memperkuat pertanian dan perikanan,” katanya.

Selain itu, Anwar juga menyampaikan bahwa kondisi inflasi Sulawesi Tengah mulai membaik pada triwulan pertama tahun 2026 berkat kerja sama pemerintah daerah, Bank Indonesia, dan para pemangku kepentingan.

Di sisi lain, ia turut menyoroti persoalan kemiskinan yang masih menjadi tantangan di Sulawesi Tengah. Menurutnya, angka kemiskinan mulai menunjukkan tren penurunan dengan sekitar 10 ribu warga keluar dari kategori miskin dalam setahun terakhir.

Namun demikian, ia menemukan adanya keterkaitan antara tingginya angka kemiskinan dengan banyaknya rumah tidak layak huni di sejumlah daerah.

“Sekitar 87 ribu rumah di Sulawesi Tengah masih tidak layak huni. Daerah yang rumah tidak layak huninya tinggi, angka kemiskinannya juga tinggi,” jelasnya.

Anwar mencontohkan Kabupaten Donggala, Sigi, dan Tojo Una-Una sebagai wilayah dengan tingkat kemiskinan yang masih tinggi dan jumlah rumah tidak layak huni cukup besar.

Ia berharap forum ekonomi tersebut dapat melahirkan rekomendasi konkret untuk memperkuat ekonomi daerah sekaligus menjawab tantangan kemiskinan, inflasi, dan ketahanan fiskal di Sulawesi Tengah.

Editor : Bidiksulteng.com

Related Articles

error: Konten dilindungi hak cipta. Dilarang menyalin tanpa izin.
Close