BERITA UTAMALINTAS SULTENGLIPUTAN KHUSUSNASIONALPOLHUKAM

Kemenkes Ingatkan Warga Waspadai Gangguan Kesehatan Akibat Asap Karhutla

Plt. Direktur Jenderal Penanggulangan Penyakit Kemenkes RI, Andi Saguni, meminta masyarakat memantau kualitas udara melalui Indeks Standar Pencemar Udara (ISPU) yang bersumber dari informasi resmi pemerintah.

Bidiksulteng.com,Jakarta — Kementerian Kesehatan (Kemenkes) RI mengingatkan masyarakat di wilayah terdampak kebakaran hutan dan lahan (karhutla) untuk mewaspadai gangguan kesehatan akibat paparan asap, terutama partikel halus PM2,5.

Plt. Direktur Jenderal Penanggulangan Penyakit Kemenkes RI, Andi Saguni, meminta masyarakat memantau kualitas udara melalui Indeks Standar Pencemar Udara (ISPU) yang bersumber dari informasi resmi pemerintah.

“Waspadai dan pantau kualitas udara secara berkala atau ISPU melalui sumber informasi resmi,” ujar Andi dalam update penanganan karhutla yang diikuti secara daring, Selasa (1/9/2026).

Menurut Andi, asap akibat karhutla tidak hanya mengandung partikel halus PM2,5, tetapi juga sejumlah polutan lain, seperti karbon monoksida, nitrogen dioksida, dan senyawa organik beracun.

Paparan berbagai polutan tersebut, kata dia, dapat menimbulkan gangguan kesehatan maupun memperburuk penyakit yang sebelumnya telah diderita seseorang.

Salah satu gangguan kesehatan yang perlu diwaspadai adalah infeksi saluran pernapasan akut (ISPA). Gejalanya dapat berupa batuk, pilek, radang atau nyeri tenggorokan, sesak napas, dan demam.

Andi menjelaskan, istilah “akut” dalam ISPA berkaitan dengan durasi penyakit, bukan menunjukkan tingkat keparahannya.

“Akut sebenarnya itu berhubungan dengan durasi kejadian penyakit,” jelasnya.

Asap Karhutla Bisa Picu Kekambuhan Asma

Selain ISPA, paparan asap karhutla juga dapat memicu kekambuhan asma. Kondisi tersebut dapat terjadi pada penderita yang sedang mengalami gejala maupun mereka yang sebelumnya penyakitnya telah terkontrol.

“Untuk kasus yang lama bisa saja penderita asma ini sudah sembuh atau terkontrol penyakitnya, tetapi karena adanya asap dan polutan lainnya, maka penyakitnya bisa kembali,” kata Andi.

Asap karhutla juga dapat memperburuk kondisi penderita penyakit paru obstruktif kronis (PPOK). Paparan polutan dapat mengiritasi saluran pernapasan dan menimbulkan keluhan, termasuk sesak napas.

Dampak paparan asap juga dapat dirasakan pada bagian tubuh yang terpapar secara langsung, terutama mata dan kulit.

Sementara itu, masyarakat dengan penyakit kronis atau gangguan sistemik, seperti penyakit jantung, stroke, dan hipertensi, juga diminta meningkatkan kewaspadaan karena paparan asap dapat memengaruhi kondisi kesehatan kelompok tersebut.

Kurangi Aktivitas di Luar Ruangan

Untuk mengurangi risiko paparan asap, Andi mengimbau masyarakat mengurangi aktivitas di luar ruangan, terutama kegiatan yang tidak mendesak.

Aktivitas fisik berat di luar rumah juga sebaiknya dihindari ketika kualitas udara memburuk.

Bagi masyarakat yang tetap harus beraktivitas di luar ruangan, penggunaan masker yang mampu menyaring partikel halus dianjurkan.

“Gunakan masker tentunya yang mampu menyaring partikel, khusus partikel halus terutama PM2,5,” imbaunya.

Masyarakat juga dianjurkan memperbanyak konsumsi air putih untuk menjaga hidrasi tubuh.

Perlindungan lebih perlu diperhatikan bagi kelompok rentan, antara lain anak-anak, lanjut usia, ibu hamil, serta masyarakat dengan penyakit pernapasan dan penyakit kronis lainnya.

Untuk mengurangi masuknya asap ke dalam rumah, masyarakat dapat menutup pintu dan jendela. Jika memungkinkan, penggunaan penyaring udara atau air purifier juga dapat dilakukan.

Selain itu, pengaturan ventilasi atau kisi-kisi udara dapat membantu mengurangi masuknya asap dari luar ke dalam rumah.

Segera Cari Pertolongan Medis

Andi meminta masyarakat tidak mengabaikan gejala gangguan kesehatan yang muncul setelah terpapar asap karhutla.

Masyarakat dianjurkan segera mencari pertolongan medis apabila mengalami kondisi yang memburuk, terutama sesak napas, batuk yang disertai kondisi memburuk, nyeri dada, atau keluhan kesehatan lainnya yang diduga berkaitan dengan paparan asap.

“Segeralah ke fasilitas pelayanan kesehatan apabila mengalami sesak napas, batuk kemudian keadaan yang memburuk, ada nyeri dada misalkan begitu, atau keluhan kesehatan lainnya akibat paparan asap,” ujarnya.

Selain melindungi diri dari paparan asap, masyarakat juga diminta tidak melakukan pembakaran lahan maupun sampah.

Aktivitas pembakaran tersebut dapat memperburuk kualitas udara sekaligus meningkatkan risiko terjadinya kebakaran hutan dan lahan.

 

Sumber : infopublik.id

Pewarta : M S G

Editor : Bidiksulteng.com

Related Articles

error: Konten dilindungi hak cipta. Dilarang menyalin tanpa izin.
Close