BERITA UTAMALINTAS SULTENGLIPUTAN KHUSUSNASIONALOPINIPalu

METODE KHAIRĀTY; KHAZANAH TRANSFORMASI PENGETAHUAN KEISLAMAN YANG TERGILAS ZAMAN

Metode-metode tersebut muncul seiring dengan tuntutan perkembangan pembelajaran Alqur’an tingkat dasar hingga lanjutan, serta menawarkan baca-tulis-hafalan yang lebih cepat, praktis dan lebih mudah dipahami. Semua itu didorong oleh rasa ingin tahu, ingin mendalami makna dan pesan suci, serta ingin meraih rahmat, ridha dan keberkahan Allah dengan sebab membaca Alqur’an.

Penulis :

(Oleh: Dr. Abdul Gafar Mallo, M.HI*)

Bidiksulteng.com,Palu – Pembelajaran tentang Alqur’an baik bagi anak-anak maupun orang dewasa telah dikenal lama, bahkan sejak Islam masuk di Nusantara abad I hijri atau abad VII masehi. Pengenalan dan pembelajaran Alqur’an tersebut diberikan dengan berbagai metode.

Metode-metode tersebut muncul seiring dengan tuntutan perkembangan pembelajaran Alqur’an tingkat dasar hingga lanjutan, serta menawarkan baca-tulis-hafalan yang lebih cepat, praktis dan lebih mudah dipahami. Semua itu didorong oleh rasa ingin tahu, ingin mendalami makna dan pesan suci, serta ingin meraih rahmat, ridha dan keberkahan Allah dengan sebab membaca Alqur’an.

Ada kaidah Bagdadiyah diperkirakan berasal dari kota Bagdad yang dikembangkan oleh ulama dan pengajar Alqur’an di masa klasik. Metode ini mengajarkan huruf demi huruf atau kata demi kata dengan cara eja (mengeja).

Ada metode Qiraati yang disusun oleh Dahlan Salim Zarkasyi, dengan menekankan aspek tartil sesuai tajwid. Ada metode Tilawati yang menggabungkan baca-tulis-hafalan dengan menyisipkan lagu atau nada-nada agar bacaan dan hafalan terasa lebih indah dan menarik. Ada metode Ummi yang dikembangkan secara kelembagaan oleh Masruri dan Yusuf MS melalui ummi foundation.

Metode ini mengutamakan bacaan tartil sesuai tajwid dengan meniru cara seorang ibu mengajarkan bahasa atau pengetahuan kepada anaknya. Ada metode Yanbu’a yang disusun dan dikembangkan oleh ulama/kyai di Pondok Tahfiz Yanbu’ul Qur’an Kudus. Tokoh utamanya KH. Muhammad Ulil Albab Arwani.

Metode ini menggabungkan baca-tulis huruf Arab dan Pegon yang diajarkan secara bertahap hingga mahir dengan menekankan aspek tajwid dan ketepatan makhraj.

Tujuannya untuk membantu santri membaca, menulis dan memahami Alqur’an dengan baik. Ada metode al-Barqy yang diciptakan oleh Muhadjir Sulthan.

Sesuai namanya al-barq (kilat), agar kemampuan pembaca (anak-anak atau orang dewasa) lebih cepat ibarat kilat saat belajar membaca Alqur’an. Metode ini menekankan pada pola struktur kata dan bunyi agar lebih mudah diingat atau tidak mudah dilupa.

Ada metode Iqra’ yang disusun oleh As’ad Humam terdiri dari 6 jilid yang hingga kini masih populer digunakan. Metode ini para santri langsung membaca tanpa mengeja dengan sistem cara belajar santri aktif. Semua metode tersebut memiliki keunggulan, kelebihan dan tentu pula beberapa kekurangan.

Bagaimana dengan metode Khairāty…? Sejatinya, metode Khairāty merupakan model atau metode transformasi pengetahuan keIslaman (ilmu-ilmu agama) di lembaga pendidikan Alkhairaat yang juga sudah berlangsung lama, khususnya di Madrasah Ibtidaiyah (MI) atau Madrasah Diniyah Awwaliyah (MDA).

Metode ini diperkenalkan oleh tokoh sang Pendiri Alkhairaat al-’alim al-’allamah al-Sayyid Idrus bin Salim al-Jufri. Di MI/MDA (kelas I dan II) transformasi pengetahuan keIslaman dipraktekan setiap hari yang secara garis besar berbasis pada Qiraah, Kitabah, Imla’ dan Hafalan.

Pada sesi Qiraah, peserta didik (talāmidz) diperkenalkan huruf demi huruf (bentuk dan lafaz), huruf yang bisa menyambung dan tidak bisa menyambung, tanda baca (harakat) serta kata demi kata.

Pada sesi Kitabah, peserta didik menuliskan materi-materi bacaan pada pelajaran menyambung huruf (taushil al-huruf), menceraikan huruf (tafriq al-huruf) dan tulisan indah (tahsin al-khat). Pada sesi Imla’, guru (ustadz) mendiktekan bacaan atau pelajaran kepada peserta didik dengan tanpa melihat catatan. Pada sesi hafalan (menghafal), peserta didik diharapkan mampu menghafal lebih cepat semua pelajaran yang telah diberikan.

Keempat metode ini saling bertautan agar peserta didik lebih cepat memahami, lebih matang dan lebih mampu menguasai pengetahuan keIslaman, khususnya baca-tulis Alqur’an.

Selanjutnya, di Kelas III dan IV pengetahuan spesifik mulai diajarkan setiap hari dan sedikit demi sedikit terus diperdalam dengan rujukan kitab yang semuanya berbahasa Arab. Seperti, pelajaran Tauhid (kitab sullam al-diyanah), pelajaran Fiqh (kitab mabadi’ al-fiqhiyah), pelajaran Qawaid (kitab ajrumiyah, nahw al-wadhih, matnu bina wal asas), pelajaran Lughah (kitab lughah takhatub al-mushawwarah), pelajaran Hadis (kitab hadis al-arba’in), pelajaran Tarikh (kitab sirah, khulashah nurul yaqin), pelajaran Alqur’an (kitab juz ’amma), pelajaran Imla’ (kitab qira’ah al-tadrijiyah, qira’ah al-’asriyah) dan pelajaran Mahfudhat.

Hemat Penulis, keempat metode di atas (qiraah, kitabah, imla’ dan hafalan) merupakan khazanah intelektual Alkhairaat yang ditelah diwariskan oleh sang Pendiri.

Namun saat ini tampak tergilas zaman, atau nyaris dilupakan. Sebutan metode khairāty tidak dikenal di rumahnya sendiri dan tidak terdokumentasi sebagai khazanah pembelajaran Alqur’an di Nusantara. Tulisan ini ingin menorehkan catatan penting di momen Haul ke 58 (1447/2026), bahwa Alkhairaat memiliki metode belajar spesifik tentang Alqur’an yang oleh Penulis menyebutnya dengan Metode Khairāty.

Sebutan yang dinisbatkan pada nama lembaga pendidikan Alkhairaat. Metode Khairāty adalah metode transformasi pengetahuan keIslaman yang memadukan antara qiraah, kitabah, imla’ dan hafalan dalam suatu momen dan proses belajar secara bersamaan. Hemat Penulis dengan merujuk pada pengalaman belajar hingga tamat di MI/MDA (1977-1981), metode ini memiliki beberapa keunggulan:

1) mampu mengenal dan membedakan huruf lebih cepat;

2) kemampuan membaca dan menulis huruf Arab lebih mahir;

3) mahir menuliskan teks-teks kalimat atau pelajaran dengan cara imla’ (tanpa melihat kitab);

4) menguatkan daya ingat karena hafalan;

5) proses transformasi pengetahuan bisa lebih cepat.

Kelima unggulan belajar dengan metode khairāty tersebut masih sangat terasa manfaatnya hingga kini. Narasi ini ingin mempertegas pula bahwa Metode Khairāty merupakan khazanah intelektual Islam Nusantara pada konteks pembelajaran Alqur’an yang posisinya sama dengan beberapa metode yang Penulis telah uraikan di bagian awal dari tulisan ini.

Layaknya abna Alkhairaat, metode ini harus tetap diterapkan, dipertahankan dan terus dilestarikan atau mungkin dikembangkan khususnya di jenjang MI/MDA. Agar Alkhairaat sebagai lembaga pendidikan tidak kehilangan identitas dan jati diri dalam proses transformasi pengetahuan keIslaman.

Bagi para abna yang pernah belajar di Alkhairaat, minimal MI/MDA, di era 1980an ke belakang pasti pernah berkenalan dengan metode ini. Namun, akhir-akhir ini boleh jadi metode tersebut terlupakan bahkan mungkin hilang tergilas zaman di tengah proses transformasi pengetahuan keIslaman di Alkhairaat.

Apalagi diperhadapkan dengan sistem pembelajaran modern, di mana metode hafalan dipandang tidak representatif sebagai model belajar yang efektif dan efisien (lihat kata kerja operasional Taksonomi Bloom pada ranah kognitif, afektif dan psikomotor).

Hemat Penulis, solusi untuk terus mengejawantahkan Metode Khairāty di seluruh jenjang pendidikan perlunya menyusun dan merumuskan kembali Kurikulum Pembelajaran Alkhairaat dengan melibatkan seluruh figur-figur sukses di bidang pendidikan dari kalangan alumni-abna Alkhairaat. Allah a’lam.

Editor : Bidiksulteng

Related Articles

error: Konten dilindungi hak cipta. Dilarang menyalin tanpa izin.
Close